Buku

Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang: Memuja Leluhur dan Menanti Datangnya Rezeki

Penerbit Buku Kompas, Jakarta · Tanggok, M. Ikhsan. Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang: Memuja Leluhur dan Menanti Datangnya Rezeki. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2016. · 2016

Ringkasan

Kajian antropologis M. Ikhsan Tanggok, guru besar antropologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tentang agama dan kebudayaan komunitas Tionghoa Hakka di Singkawang, Kalimantan Barat. Bertolak dari keterbatasan literatur yang selama ini lebih menitikberatkan sejarah, buku ini menyoroti pemujaan leluhur sebagai inti religiositas keluarga Hakka dan harapan akan rezeki yang mewarnai ritual dan perayaan. Diterbitkan Penerbit Buku Kompas untuk pembaca umum, buku ini berguna bagi studi agama-agama dan kerukunan.

Nomor inventaris
KBA-BKU-2016-0005 ISBN 978-602-412-173-0
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tanggal terbit
2016
Edisi dan halaman
Tanggok, M. Ikhsan. Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang: Memuja Leluhur dan Menanti Datangnya Rezeki. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2016.
Penulis
M. Ikhsan Tanggok
Klasifikasi LC
DS632.C5 — Orang Tionghoa di Indonesia (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
Subjek LCSH
Hakka (Chinese people) -- Indonesia -- Singkawang -- Religion; Hakka (Chinese people) -- Indonesia -- Singkawang -- Social life and customs; Ancestor worship -- Indonesia -- Kalimantan Barat; Chinese -- Indonesia -- Kalimantan Barat -- Religion
Kategori BISAC
SOC002010 Social Science / Anthropology / Cultural & Social; REL018000 Religion / Confucianism; REL017000 Religion / Comparative Religion
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang: Memuja Leluhur dan Menanti Datangnya Rezeki adalah kajian antropologis karya M. Ikhsan Tanggok tentang kehidupan keagamaan dan kebudayaan komunitas Tionghoa Hakka di Singkawang, Kalimantan Barat. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas di Jakarta. Toko buku Gramedia mencatat tanggal terbitnya 27 Desember 2016, dengan tebal 236 halaman, sampul lunak, dan ISBN 978-602-412-173-0. Anak judulnya merangkum dua poros yang dibahas buku ini, yaitu pemujaan leluhur sebagai inti religiositas keluarga Hakka dan harapan akan datangnya rezeki yang mewarnai ritual, perayaan, serta kehidupan ekonomi sehari-hari. Penulisnya, M. Ikhsan Tanggok, adalah guru besar antropologi di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam sebuah wawancara yang terbit pada 2008, ia menuturkan bahwa ia lahir di Sungai Purun, Pontianak, Kalimantan Barat, dan bersekolah di sebuah sekolah dasar swasta yang dahulu merupakan sekolah Tionghoa. Lingkungan masa kecil itu menumbuhkan minatnya pada kebudayaan Tionghoa. Setelah tamat sekolah menengah pada 1987 ia belajar Perbandingan Agama di IAIN Jakarta, tempat ia pertama kali mendalami Konghucu. Ia kemudian bertahun-tahun mengajar Konghucu dan Taoisme kepada mahasiswa Muslim, menguasai dialek Hakka, dan kerap diundang berceramah di klenteng, sehingga di kalangan umat Konghucu ia dikenal dengan sebutan Haksu. Dalam wawancara yang sama ia menegaskan bahwa agama sebaiknya dikaji sebagai gejala kebudayaan, bukan dihakimi benar atau salahnya, dan bahwa peneliti perlu berusaha memahami sudut pandang orang dalam meskipun ia sendiri berdiri sebagai orang luar. Sikap metodologis itu tampak dalam buku ini. Menurut sinopsis penerbit, orang Tionghoa telah tinggal di Indonesia selama berabad-abad, dan orang Hakka di Singkawang telah hadir sejak lama serta hidup berdampingan secara rukun dengan tetangga-tetangganya. Meski demikian, tulisan tentang kehadiran, kebudayaan, dan agama mereka masih terbatas, dan sebagian besar karya yang ada lebih menitikberatkan sejarah. Buku ini dimaksudkan untuk memberi pembaca umum gambaran yang lebih utuh tentang agama dan kebudayaan orang Hakka, sekaligus melengkapi terbitan-terbitan sebelumnya. Dengan demikian buku ini tidak berangkat dari sejarah migrasi atau politik etnis semata, melainkan dari praktik keagamaan yang dihayati dalam keluarga dan komunitas. Tema pemujaan leluhur, yang menjadi bagian pertama anak judul, juga dikembangkan Tanggok dalam artikel jurnalnya tentang kultus orang mati dalam keluarga dan masyarakat Hakka di Singkawang, yang terbit di Refleksi: Jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Dalam artikel itu ia membahas ritual pemakaman serta upacara sebelum dan sesudah penguburan, dan berargumen bahwa keyakinan orang Hakka tentang alam sesudah kematian tetap terhubung erat dengan kehidupan sehari-hari di dunia nyata. Hubungan timbal balik antara orang hidup dan leluhur inilah yang membuat pemujaan leluhur bukan sekadar penghormatan simbolik, melainkan bagian dari cara keluarga Hakka menata kesejahteraan, keselamatan, dan rezeki mereka. Bagian kedua anak judul, menanti datangnya rezeki, berkaitan dengan cara agama dan ritual terjalin dengan harapan akan keberuntungan dan kemakmuran. Salah satu contoh yang paling dikenal di Singkawang adalah tradisi tatung dalam perayaan Cap Go Meh. Dalam artikel lain di Refleksi (2013), Tanggok menguraikan pertunjukan tatung sebagai unsur yang dianggap mutlak dalam perayaan itu. Masyarakat percaya bahwa tatung dapat memberi pertolongan, dan mereka membalasnya dengan persembahan. Menurut temuannya, pertunjukan tersebut memiliki beberapa fungsi sekaligus: menolak roh jahat, menggerakkan ekonomi lokal, menaikkan martabat pelakunya, dan mendorong pariwisata Singkawang. Temuan ini memperlihatkan bagaimana religiositas, ekonomi, dan identitas kota bertemu dalam satu peristiwa ritual. Pembaca dapat menduga bahwa tema-tema dari artikel-artikel tersebut juga mewarnai buku ini, meskipun daftar isi lengkap buku belum dapat diverifikasi dari sumber yang tersedia. Sampul buku menampilkan gambar Vihara Tri Dharma Bumi Raya di pusat Kota Singkawang, salah satu rumah ibadat Tionghoa yang paling dikenal di kota itu. Pilihan gambar ini menegaskan bahwa klenteng atau vihara Tri Dharma, tempat bertemunya unsur Konghucu, Taoisme, dan Buddhisme dalam praktik keagamaan Tionghoa, merupakan titik pusat kehidupan religius yang dibahas. Konteks politik juga penting untuk membaca buku semacam ini. Pada masa Orde Baru, ekspresi publik kebudayaan Tionghoa dibatasi, sementara sesudah Reformasi, terutama pada masa Presiden Abdurrahman Wahid, pembatasan itu dicabut, Imlek menjadi hari libur nasional, dan Konghucu kembali diakui sebagai agama. Kajian tentang agama dan kebudayaan Tionghoa lokal seperti buku ini tumbuh dalam suasana keterbukaan baru tersebut. Nilai buku ini bagi perpustakaan studi Islam terletak pada dua hal. Pertama, buku ini ditulis oleh seorang guru besar di perguruan tinggi Islam negeri yang mengkhususkan diri pada agama-agama Tionghoa, sehingga menjadi contoh nyata studi agama-agama di lingkungan UIN yang bersifat empiris dan berempati, bukan apologetis. Kedua, buku ini menyediakan data etnografis tentang salah satu komunitas Tionghoa terbesar dan paling khas di Indonesia, yang berguna bagi kajian kerukunan antarumat beragama, pluralisme, dan hubungan antara mayoritas Muslim dengan minoritas non-Muslim. Bagi peneliti Aceh, buku ini dapat menjadi bahan perbandingan untuk memahami komunitas Tionghoa di Aceh, misalnya di kawasan Peunayong, Banda Aceh, serta bagaimana minoritas Tionghoa menjalankan tradisi leluhur di tengah masyarakat Muslim. Buku ini juga perlu dibaca dengan memperhatikan batas-batasnya. Sebagai terbitan Penerbit Buku Kompas yang ditujukan bagi pembaca umum, gaya penulisannya kemungkinan lebih deskriptif dan populer dibanding monograf akademik yang ketat. Daftar isi, rincian metode lapangan, dan masa penelitian tidak dapat diverifikasi dari sumber daring yang ditemukan, sehingga uraian dalam rekaman ini dibatasi pada informasi penerbit, profil penulis, dan karya-karya terkait penulis yang dapat diperiksa. Pembaca yang ingin mendalami tema yang sama dapat membandingkannya dengan kajian lain tentang Singkawang, misalnya tentang tradisi klenteng dan tatung, serta dengan literatur sejarah tentang komunitas Hakka dan kongsi di Kalimantan Barat. Secara keseluruhan, buku ini merupakan sumbangan yang berguna bagi kepustakaan berbahasa Indonesia tentang agama Tionghoa lokal. Ia mengangkat orang Hakka di Singkawang bukan hanya sebagai objek sejarah migrasi, melainkan sebagai komunitas religius yang hidup, yang menghubungkan leluhur, keluarga, dan rezeki dalam satu pandangan dunia. Bagi mahasiswa antropologi agama, studi agama-agama, dan sosiologi masyarakat majemuk, buku ini menawarkan pintu masuk yang mudah dijangkau ke dunia keagamaan yang sering kurang dipahami oleh masyarakat luas. Dalam perspektif kajian agama yang lebih luas, buku ini juga menunjukkan bahwa kategori agama resmi tidak selalu cukup untuk memahami religiositas masyarakat Tionghoa di Indonesia. Praktik pemujaan leluhur, penghormatan kepada dewa-dewa pelindung, dan ritual di klenteng Tri Dharma sering melintasi batas antara Konghucu, Taoisme, dan Buddhisme. Kajian etnografis yang sabar, seperti yang diupayakan Tanggok, membantu pembaca melihat agama sebagai jaringan praktik dan makna yang hidup dalam keluarga, bukan hanya sebagai sistem doktrin yang tercatat dalam administrasi negara. Rekaman ini menggambarkan eksemplar yang disimpan dalam koleksi pribadi KBA13 Academy dan dikatalogkan berdasarkan sampulnya. Sampul eksemplar ini berwarna merah, memuat judul lengkap dan anak judul, nama M. Ikhsan Tanggok, gambar Vihara Tri Dharma Bumi Raya, serta logo Penerbit Buku Kompas, tetapi tidak mencantumkan tahun terbit.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Extent
236 hlm.
Koleksi
Buku

Cara mengutip

M. Ikhsan Tanggok, “Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang: Memuja Leluhur dan Menanti Datangnya Rezeki”, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Tanggok, M. Ikhsan. Agama dan Kebudayaan Orang Hakka di Singkawang: Memuja Leluhur dan Menanti Datangnya Rezeki. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2016., 2016. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2016-0005.