12 Tokoh Etika Abad ke-20
Oleh Franz Magnis-Suseno
Kanisius, Yogyakarta · Magnis-Suseno, Franz. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Pustaka Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 2000. · 2000
Ringkasan
Pengantar filsafat moral karya Franz Magnis-Suseno, filsuf dan guru besar STF Driyarkara, yang menghadirkan dua belas pemikir etika abad ke-20 dalam seri Pustaka Filsafat Kanisius. Bertolak dari kemajemukan pandangan dunia yang membuat etika kehilangan visi dasar bersama, buku ini membentang dari etika fundamental Emmanuel Levinas dan rekayasa kebudayaan B.F. Skinner hingga pandangan A.J. Ayer dan etika tanggung jawab ekologis Hans Jonas. Setiap posisi dijelaskan dengan jernih dan ditanggapi secara kritis.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-2000-0004 ISBN 979-672-725-0
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- Kanisius, Yogyakarta
- Tanggal terbit
- 2000
- Edisi dan halaman
- Magnis-Suseno, Franz. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Pustaka Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 2000.
- Penulis
- Franz Magnis-Suseno
- Subjek
- Etika Filsafat moral Filsafat abad ke-20 Tokoh filsafat Etika Barat modern Fenomenologi Positivisme logis Etika lingkungan Sejarah pemikiran
- Klasifikasi LC
- BJ319 — Etika modern abad ke-20 (perkiraan nomor kelas; belum diverifikasi)
- Subjek LCSH
- Ethics, Modern -- 20th century; Philosophers, Modern; Ethics -- History -- 20th century
- Kategori BISAC
- PHI005000 Philosophy / Ethics & Moral Philosophy; PHI016000 Philosophy / History & Surveys / Modern
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- 12 Tokoh Etika Abad ke-20 adalah buku pengantar filsafat moral karya Franz Magnis-Suseno yang memperkenalkan dua belas pemikir etika penting dari abad ke-20 kepada pembaca berbahasa Indonesia. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kanisius di Yogyakarta dalam seri Pustaka Filsafat. Catatan katalog perpustakaan menyebut cetakan pertamanya terbit pada 2000, setebal 271 halaman dengan ukuran 21 sentimeter, dan memakai ISBN 979-672-725-0. Indeks berada di halaman 268 sampai 271. Buku ini dicetak ulang berkali-kali dengan ISBN yang sama; misalnya katalog Universitas Kristen Petra mencatat cetakan keenam pada 2006, dan perpustakaan lain mencatat cetakan tahun 2004. Franz Magnis-Suseno adalah salah satu filsuf dan rohaniwan Katolik paling berpengaruh di Indonesia. Menurut sebuah kajian skripsi tentang pemikirannya, ia lahir pada 26 Mei 1936 di Eckersdorf, Silesia, di wilayah timur Jerman dekat perbatasan Polandia, sebagai sulung dari enam bersaudara. Ia belajar filsafat di Philosophische Hochschule Pullach dekat München pada 1957 sampai 1960, lalu datang ke Indonesia pada awal 1961 sebagai anggota Serikat Yesus. Ia mempelajari bahasa dan kebudayaan Jawa, ditahbiskan menjadi imam di Yogyakarta pada 1967, dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Ludwig-Maximilian München pada 1973 dengan disertasi tentang pemikiran Karl Marx muda. Pada 1969 ia ikut mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta, kemudian memegang berbagai jabatan di sana, termasuk sebagai ketua, dan menjadi guru besar pada 1996. Ia menjadi warga negara Indonesia pada 1977 dan menerima gelar doktor kehormatan teologi dari Universitas Luzern pada 2002. Ia juga pernah mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Indonesia, Universitas Parahyangan, Hochschule für Philosophie München, dan Universitas Innsbruck. Di antara karyanya yang banyak dibaca adalah Etika Jawa dan Etika Politik. Gagasan dasar buku ini dirumuskan dalam keterangan penerbit yang tercatat di beberapa katalog. Abad ke-20 digambarkan sebagai masa ketegangan antara kekuatan-kekuatan yang mempersatukan dunia melalui globalisasi dan benturan pandangan dunia religius, moral, dan ideologis yang majemuk. Kemajemukan itu tercermin dalam pemikiran etika, yang kehilangan visi dasar bersama. Buku ini menghadirkan dua belas pemikir yang mewakili keragaman tersebut. Rentangnya dicontohkan oleh penerbit, mulai dari etika fundamental Emmanuel Levinas sampai rekayasa kebudayaan B.F. Skinner, dan dari pandangan A.J. Ayer bahwa etika adalah kekeliruan logis sampai etika Hans Jonas yang hendak menyelamatkan umat manusia dari kehancuran ekologis. Menurut keterangan yang sama, Magnis-Suseno menjelaskan setiap posisi dengan jernih dan menunjukkan titik-titik yang memungkinkan tanggapan kritis. Keempat nama yang disebut itu sudah memperlihatkan betapa lebarnya bentang pemikiran yang dibahas. Levinas mewakili fenomenologi yang menempatkan perjumpaan dengan wajah orang lain sebagai dasar tanggung jawab etis. Skinner mewakili behaviorisme yang memandang perilaku manusia sebagai hasil pengondisian dan karena itu dapat direkayasa. Ayer mewakili positivisme logis yang menganggap pernyataan moral tidak memiliki makna kognitif. Jonas mewakili etika tanggung jawab bagi masa depan di tengah kekuatan teknologi modern. Dengan menempatkan pemikir-pemikir yang saling bertentangan ini dalam satu buku, Magnis-Suseno mengajak pembaca melihat bahwa etika abad ke-20 bukan satu aliran tunggal, melainkan medan perdebatan yang luas. Nama delapan tokoh lainnya tidak dicantumkan di sini karena daftar isi lengkap buku belum dapat diverifikasi dari sumber daring yang ditemukan. Sebagai bagian dari seri Pustaka Filsafat Kanisius, buku ini ditulis untuk mahasiswa dan pembaca umum yang ingin memahami pergulatan intelektual di balik peristiwa-peristiwa dramatis abad ke-20. Gaya Magnis-Suseno dikenal sistematis dan lugas. Ia biasanya memaparkan riwayat singkat seorang tokoh, menguraikan gagasan pokoknya, lalu memberi penilaian kritis dari sudut pandang etika yang ia anut, yang berakar pada tradisi filsafat Eropa dan pemikiran Katolik. Pendekatan ini membuat buku ini berfungsi ganda, yaitu sebagai pengantar sejarah pemikiran dan sebagai latihan berpikir kritis tentang dasar-dasar moralitas. Buku ini berdiri dalam rangkaian karya Magnis-Suseno tentang etika yang cukup panjang. Dalam karya-karya lain ia membahas etika dasar, etika politik, dan etika Jawa, sedangkan 12 Tokoh Etika Abad ke-20 memusatkan perhatian pada para pemikir modern. Di perguruan tinggi Indonesia, buku ini sering dipakai dalam mata kuliah etika dan filsafat moral, dan dikutip dalam skripsi serta tesis tentang pemikiran etika, termasuk di perguruan tinggi Islam. Sebuah skripsi di UIN Ar-Raniry tentang konsep etika menurut Franz Magnis-Suseno, misalnya, merujuk buku ini sebagai salah satu sumbernya. Bagi perpustakaan studi Islam, buku ini berguna sebagai pengantar terhadap filsafat moral Barat modern yang sering menjadi lawan bicara pemikiran etika Islam kontemporer. Mahasiswa yang mempelajari akhlak, filsafat Islam, maqasid al-syariah, atau etika publik dapat memakainya untuk mengenali posisi-posisi utama dalam etika abad ke-20, seperti positivisme, behaviorisme, fenomenologi, dan etika lingkungan, sebelum membandingkannya dengan tradisi Islam. Kejernihan penjelasan dan sikap kritis penulis menjadikan buku ini bahan yang baik untuk diskusi lintas tradisi tentang dasar-dasar moralitas. Relevansinya bagi studi Aceh bersifat tidak langsung. Buku ini tidak membahas Aceh, tetapi dapat menjadi bekal teoretis untuk membahas persoalan moral publik di Aceh, misalnya hubungan antara hukum, agama, dan etika dalam penerapan syariat, tanggung jawab sosial sesudah konflik dan tsunami, atau etika lingkungan dalam pengelolaan sumber daya alam. Etika tanggung jawab Hans Jonas, misalnya, dapat dibaca berdampingan dengan diskusi tentang kerusakan lingkungan dan bencana di Aceh. Keterbatasan buku ini juga perlu dicatat. Sebagai buku pengantar, setiap tokoh hanya mendapat ruang terbatas, sehingga pembaca yang ingin mendalami seorang pemikir perlu membaca karya primernya atau kajian khusus. Pemilihan tokoh dan sudut penilaian kritisnya juga mencerminkan latar intelektual penulis sendiri. Meskipun demikian, buku ini tetap merupakan salah satu pengantar etika modern yang paling banyak digunakan dalam bahasa Indonesia. Nilai lain dari buku ini terletak pada perannya dalam membangun kosakata filsafat berbahasa Indonesia. Banyak istilah teknis dalam etika modern, seperti emotivisme, utilitarisme, deontologi, dan etika tanggung jawab, diperkenalkan dan dijelaskan dengan bahasa yang dapat dipahami mahasiswa tingkat awal. Dengan demikian buku ini ikut membentuk cara generasi mahasiswa Indonesia membicarakan persoalan moral secara rasional dan argumentatif. Bagi pembaca yang terbiasa dengan kajian akhlak dalam tradisi pesantren dan perguruan tinggi Islam, buku ini membuka jendela ke cara berpikir etis yang berbeda, sekaligus memberi kesempatan untuk menguji dan memperkaya keyakinan sendiri melalui dialog kritis. Rekaman ini menggambarkan eksemplar yang disimpan dalam koleksi pribadi KBA13 Academy dan dikatalogkan berdasarkan sampulnya. Sampul eksemplar ini memuat logo seri Pustaka Filsafat, logo Penerbit Kanisius, judul 12 Tokoh Etika Abad ke-20, nama Franz Magnis-Suseno, serta beberapa foto potret, dan tampak sudah aus karena sering dipakai. Sampul tidak mencantumkan tahun atau nomor cetakan, sehingga tahun yang dicatat adalah tahun cetakan pertama, 2000.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Extent
- 271 hlm.
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Franz Magnis-Suseno, “12 Tokoh Etika Abad ke-20”, Kanisius, Yogyakarta, Magnis-Suseno, Franz. 12 Tokoh Etika Abad ke-20. Pustaka Filsafat. Yogyakarta: Kanisius, 2000., 2000. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2000-0004.
