The Search for Arab Democracy: Discourses and Counter-Discourses
Oleh Larbi Sadiki
C. Hurst & Co., London; Columbia University Press, New York · Sadiki, Larbi. The Search for Arab Democracy: Discourses and Counter-Discourses. London: Hurst; New York: Columbia University Press, 2004. · 2004
Ringkasan
Larbi Sadiki, ilmuwan politik asal Tunisia, menelaah bagaimana demokrasi diperdebatkan di dunia Arab dan berpendapat bahwa baik demokrasi maupun Islam bersifat majemuk dan diperebutkan maknanya. Dengan teori kritis dan wawancara dengan kaum Muslim dari beragam latar, delapan bab buku ini membahas wacana Orientalis dan Oksidentalis tentang demokrasi, konsepsi Arab kontemporer, perspektif perempuan, dan narasi Islamis tentang dukungan Barat terhadap rezim otoriter, serta menantang anggapan bahwa Islam bertentangan dengan demokrasi.
- Nomor inventaris
- KBA-BKU-2004-0004
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- C. Hurst & Co., London; Columbia University Press, New York
- Tanggal terbit
- 2004
- Edisi dan halaman
- Sadiki, Larbi. The Search for Arab Democracy: Discourses and Counter-Discourses. London: Hurst; New York: Columbia University Press, 2004.
- Penulis
- Larbi Sadiki
- Subjek
- Demokrasi -- Negara-negara Arab Demokratisasi Islam dan politik Islam dan demokrasi Orientalisme Oksidentalisme Perempuan dan politik Gerakan Islam Otoritarianisme Negara-negara Arab -- Politik dan pemerintahan
- Klasifikasi LC
- JQ1850.A91 S235 2004 — Ilmu politik: pemerintahan dan demokratisasi di negara-negara Arab
- Subjek LCSH
- Democratization--Arab countries; Democracy--Arab countries; Islam and politics--Arab countries; Arab countries--Politics and government--1945-
- Kategori BISAC
- POL040040 Political Science / World / Middle Eastern; POL007000 Political Science / Political Ideologies / Democracy; REL037000 Religion / Islam / General
- Bahasa
- Inggris
- Keterangan
- The Search for Arab Democracy: Discourses and Counter-Discourses adalah kajian ilmuwan politik asal Tunisia, Larbi Sadiki, tentang cara gagasan demokrasi diperdebatkan, diterima, ditolak, dan ditafsirkan ulang di dunia Arab. Buku ini terbit pada tahun 2004 dalam dua edisi yang diterbitkan bersamaan, yaitu oleh C. Hurst & Co. di London dan oleh Columbia University Press di New York. Rekaman katalog perpustakaan mencatat tebalnya xxii + 457 halaman, dengan bibliografi pada halaman 410 sampai 434 serta indeks, dan mengklasifikasikannya dengan nomor Library of Congress JQ1850.A91 S235 2004. Edisi Hurst tercatat dengan ISBN 1-85065-489-1 untuk sampul keras dan 978-1-85065-494-0 untuk sampul lunak, sedangkan edisi Columbia tercatat dengan ISBN 0-231-12580-1 untuk edisi kain dan 0-231-12581-X untuk sampul lunak. Sampul eksemplar yang dideskripsikan di sini memuat judul, anak judul, dan nama pengarang di atas reproduksi lukisan bergaya Orientalis yang menggambarkan sekelompok laki-laki duduk berkumpul di bawah sebatang pohon, tetapi tidak menampilkan logo atau nama penerbit, sehingga dari sampul saja belum dapat dipastikan eksemplar ini termasuk edisi yang mana. Larbi Sadiki meraih gelar doktor bidang politik dan hubungan internasional dari Australian National University pada tahun 1997 dan pernah mengajar di Centre for Arab and Islamic Studies di universitas tersebut, sebelum menjadi dosen politik Timur Tengah di University of Exeter, Inggris, jabatan yang ia pegang ketika buku ini terbit. Ia kemudian menjadi peneliti di Carnegie Middle East Center dan guru besar bidang demokratisasi Arab di Qatar University. Karya-karya berikutnya antara lain Rethinking Arab Democratization: Elections without Democracy (2009) dan Routledge Handbook of the Arab Spring: Rethinking Democratization (2015) yang ia sunting. Ia juga menyunting seri buku Routledge tentang demokratisasi dan pemerintahan di Timur Tengah serta jurnal Protest terbitan Brill, dan mendirikan Tunisia Demos, lembaga penelitian dan advokasi yang berbasis di Tunis. Bidang kajiannya meliputi demokratisasi Arab, hak asasi manusia, dan dialog antara tradisi intelektual Barat dan Islam, dan buku ini dalam banyak hal menjadi fondasi bagi karya-karyanya kemudian. Tesis pokok buku ini adalah bahwa baik "demokrasi" maupun "Islam" bukanlah istilah yang tetap dan seragam. Keduanya diperebutkan maknanya, dan menurut Sadiki lebih tepat berbicara tentang banyak demokrasi dan banyak Islam. Alih-alih bertanya apakah masyarakat Arab sudah siap menerima model Barat yang sudah jadi, ia menelaah bagaimana demokrasi dibicarakan: siapa yang mengklaimnya, siapa yang menolaknya, dengan alasan apa, dan dengan akibat politik apa. Untuk itu ia memanfaatkan teori kritis serta pendekatan pascastrukturalis tentang wacana dan kekuasaan. Ia memakai filsafat politik Barat untuk mempersoalkan asumsi-asumsi Eurosentris tentang bentuk demokrasi, sekaligus menelaah secara kritis cara para pemikir Muslim membenarkan, menyesuaikan, atau menolak gagasan demokrasi. Buku ini terdiri atas delapan bab. Bab pertama, "Contesting Democracy: Discourses and Counter-discourses", menyusun kerangka teoretis dan gagasan bahwa makna demokrasi lahir dari narasi-narasi yang saling bersaing. Bab kedua, "Defoundationalizing Democracy and the Arabo-Islamic Setting", menolak anggapan bahwa demokrasi bertumpu pada satu fondasi tunggal, entah liberal, sekuler, maupun Barat, dan menimbang artinya bagi konteks Arab dan Islam. Bab ketiga dan keempat, "Democracy as an Occidentalist Discourse" dan "Democracy as an Orientalist Discourse", menelaah dua cara berbicara tentang demokrasi yang saling mencerminkan: konstruksi Arab dan Islam tentang Barat, serta konstruksi akademik dan politik Barat tentang dunia Arab dan Muslim, terutama klaim bahwa Islam tidak sejalan dengan demokrasi. Bab kelima, "Contemporary Arab Conceptions of Democracy", membahas cara para intelektual, aktivis, dan warga biasa di dunia Arab memahami demokrasi. Bab keenam, "Arab Women and Democracy: Breaking Out", mengangkat perspektif perempuan dan perjuangan mereka untuk memperoleh suara politik. Bab ketujuh, "The West and the Sponsoring of Arab Authoritarianisms: Islamist Narratives", menganalisis narasi kaum Islamis tentang dukungan Barat terhadap rezim-rezim otoriter. Bab terakhir, "Discoursing Islam and Democracy", merangkai seluruh pembahasan. Salah satu ciri khas buku ini adalah pemanfaatan bahan primer yang dikumpulkan sendiri oleh penulis. Menurut deskripsi penerbit, Sadiki bertumpu pada wawancara yang ia lakukan selama beberapa tahun dengan kaum Muslim dari berbagai latar sosial dan ekonomi serta pada narasi-narasi Arab setempat, dan ia memberi ruang bagi para narasumber, termasuk perempuan dan kalangan Islamis, untuk mewakili diri mereka dengan kata-kata sendiri. Pendekatan ini memberi warna yang berbeda dari kajian-kajian yang terutama bertumpu pada tipologi rezim, data pemilu, atau politik kaum elite. Sebuah ulasan atas buku ini yang dapat diakses melalui ProQuest menilainya sebagai bacaan yang menuntut, karena argumennya bersifat terbuka dan strukturnya tidak linear. Pengulas mencatat bahwa Sadiki memakai konsepsi pascastrukturalis tentang demokrasi sebagai etos demokratis, yakni perlawanan terus-menerus terhadap pemusatan kekuasaan dan pengucilan politik, bukan sebagai seperangkat lembaga yang baku. Alih-alih analisis wacana yang lazim, buku ini menggali kembali tradisi sinkretisme budaya dan pertukaran intelektual dalam sejarah Arab dan Muslim. Pengulas menganggap sebagian pilihan tokoh oleh Sadiki tidak terduga, terutama pembahasan panjang tentang filsuf al-Farabi, tetapi memandangnya sejalan dengan komitmen buku ini untuk terus mempersoalkan asumsinya sendiri. Pengulas juga menyoroti upaya buku ini membongkar oposisi biner seperti Barat dan Timur, akal dan wahyu, serta demokrasi dan Islam, khususnya pandangan bahwa Islam bertentangan dengan demokrasi, pandangan yang dianut sebagian kalangan Orientalis dan sebagian kaum Islamis yang oleh Sadiki disebut kaum penolak. Buku ini juga diulas dalam International Journal of Middle East Studies. Buku ini terbit beberapa tahun setelah serangan 11 September 2001, ketika perdebatan tentang Islam dan demokrasi di dunia Arab didominasi kepentingan keamanan dan wacana promosi demokrasi dari luar. Penekanan Sadiki pada suara-suara lokal dan pada dukungan kekuatan Barat terhadap pemerintahan otoriter menawarkan pandangan tandingan terhadap perdebatan tersebut. Dibaca sesudah gelombang pemberontakan Arab yang bermula di Tunisia pada akhir 2010, buku ini juga menarik sebagai uraian tentang sumber-sumber wacana yang kemudian dapat dimanfaatkan gerakan-gerakan protes, tema yang dikembangkan Sadiki dalam karya-karyanya tentang Musim Semi Arab. Bagi perpustakaan studi Islam dan studi Aceh, buku ini lebih berguna sebagai sumber teoretis dan perbandingan daripada sebagai sumber tentang Asia Tenggara. Buku ini membantu pembaca memikirkan bagaimana konsep seperti syura, kedaulatan, perwakilan, serta hubungan antara otoritas keagamaan dan kehendak rakyat diperdebatkan dalam masyarakat Muslim. Persoalan-persoalan ini juga muncul dalam kajian politik Islam di Indonesia dan dalam pengalaman Aceh dengan otonomi khusus, pengaturan berbasis syariat, dan politik demokratis pascakonflik. Kritiknya terhadap esensialisme Orientalis maupun Oksidentalis, serta perhatiannya pada suara perempuan dan kaum Islamis, relevan bagi kajian perbandingan tentang Islam dan demokrasi di luar dunia Arab. Rekaman katalog ini mendeskripsikan eksemplar koleksi pribadi KBA13 Academy dan dikatalogkan berdasarkan sampulnya. Karena sampul tidak menampilkan nama penerbit, rekaman ini mencantumkan edisi Hurst maupun edisi Columbia University Press, dan ISBN eksemplar ini belum diverifikasi.
- Status hak cipta
- Koleksi pribadi KBA13 Academy
- Extent
- xxii + 457 hlm.
- Koleksi
- Buku
Cara mengutip
Larbi Sadiki, “The Search for Arab Democracy: Discourses and Counter-Discourses”, C. Hurst & Co., London; Columbia University Press, New York, Sadiki, Larbi. The Search for Arab Democracy: Discourses and Counter-Discourses. London: Hurst; New York: Columbia University Press, 2004., 2004. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-2004-0004.



