Buku

Beschrijving van Atjeh

H. M. van Dorp & Co., Batavia · Beschrijving van Atjeh. Batavia: H. M. van Dorp & Co., 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 58 (Aceh Books). · 1873

Ringkasan

Beschrijving van Atjeh (Batavia: Van Dorp, 1873) adalah risalah militer-geografis berbahasa Belanda yang disusun menjelang ekspedisi kedua Belanda ke Aceh. Isinya memetakan pembagian politik Aceh Besar ke dalam 73 mukim dan tiga sagi, menggambarkan bentang Krueng Aceh, kampung, benteng dan rawa di sekitar dalam, merinci jalan dan jalan setapak bagi gerak pasukan, serta melampirkan daftar ransum lapangan dan perhitungan kuli untuk satu brigade.

Nomor inventaris
KITLV-AB-M-c-58
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
H. M. van Dorp & Co., Batavia
Tanggal terbit
1873
Edisi dan halaman
Beschrijving van Atjeh. Batavia: H. M. van Dorp & Co., 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 58 (Aceh Books).
Penulis
Anonim (pemerintah Hindia Belanda)
Klasifikasi LC
DS646.15.A3
Subjek LCSH
Aceh (Indonesia)--Description and travel; Aceh War, Indonesia, 1873-1904; Aceh (Indonesia)--History, Military; Netherlands--Colonies--Asia--Administration
Kategori BISAC
HIS003000 History / Asia / Southeast Asia; HIS027000 History / Military / General
Bahasa
Belanda
Keterangan
Beschrijving van Atjeh adalah sebuah risalah tipis berbahasa Belanda yang diterbitkan di Batavia oleh percetakan Van Dorp pada 1873. Dalam koleksi KITLV yang kini disimpan Perpustakaan Universitas Leiden, buku ini bernomor rak M c 58 dan termasuk dalam koleksi digital Aceh Books yang dibuat setelah tsunami 2004 untuk memulihkan akses terhadap literatur tentang Aceh. Halaman judulnya tidak mencantumkan nama penulis, dan teks utamanya hanya sekitar tiga belas halaman, disusul beberapa halaman lampiran. Meskipun pendek, risalah ini adalah dokumen penting karena memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial membangun pengetahuan tentang Aceh untuk kepentingan perang, tepat di antara kegagalan agresi pertama pada April 1873 dan ekspedisi kedua yang dilancarkan pada akhir tahun yang sama. Bagian pembuka menjelaskan bahwa kerajaan Aceh dibagi menjadi Aceh Besar dan Aceh Kecil. Aceh Besar disebut sebagai panggung utama perang yang akan datang dan terletak di ujung utara Sumatra, sedangkan Aceh Kecil terdiri atas negeri-negeri kecil di pantai utara, timur laut dan barat laut yang membayar upeti kepada Sultan Aceh. Batas Aceh Besar digambarkan dengan Selat Malaka di utara, jalur laut Surat dan Samudra Hindia di barat laut dan barat, pegunungan Djimbora dan Ija Moeria di selatan, serta pegunungan yang memisahkannya dari Aceh Kecil dan Pedir di tenggara dan timur. Wilayah ini dinyatakan terdiri atas tujuh puluh tiga mukim atau sagi, dan satu mukim dijelaskan sebagai kumpulan kampung yang dipimpin satu kepala. Penulis kemudian menguraikan susunan politik yang terkenal dalam historiografi Aceh, yaitu tiga sagi: XXVI Mukim, XXV Mukim dan XXII Mukim. Setiap gabungan mukim berada di bawah seorang kepala bergelar Panglima yang disapa Teuku. Disebutkan bahwa pada asalnya setiap mukim berpenduduk sekitar seribu orang, tetapi pembagian yang seimbang itu tidak bertahan dan pada masa itu XXII Mukim adalah yang paling padat. Penulis juga mencatat bahwa batas pasti ketiga distrik besar itu tidak dapat ditetapkan, lalu memberi gambaran umum: XXVI Mukim meliputi wilayah hingga Krueng Raya di tepi kanan sungai Aceh; XXII Mukim meliputi wilayah selatan yang dialiri sungai itu dan Krueng Daroy; dan XXV Mukim meliputi tepi kiri sungai hingga semenanjung Ujung Aceh dan Koningspunt. Di dalam ketiga sagi itu terdapat pula federasi mukim yang lebih kecil, seperti VII Mukim dalam XXII Mukim, IV dan IX Mukim dalam XXV Mukim, serta III dan VI Mukim dalam XXVI Mukim. Bagian terbesar risalah adalah deskripsi medan dengan Krueng Aceh sebagai poros. Sungai itu disebut berhulu di Ija Moeria, mengalir ke barat laut hingga dekat kraton lalu ke utara menuju laut. Penulis mencatat gosong pasir di muara, lebar dan kedalaman sungai, kemampuan perahu dan sekunar untuk masuk, rawa dan nipah di muara, sawah dan kampung di hulu, serta letak rumah syahbandar sekitar dua jam berdayung dari muara. Disebutkan pula Krueng Daroy atau Krueng Dalam yang mengalir di antara tembok pertama dan kedua kraton dan airnya dapat diminum, missigit atau masjid di dekat sudut barat laut kraton, kampung-kampung seperti Jawa, Penayong, Pande, Ulee Lheue, Lambhuek dan Lampineung, serta tempat tinggal Panglima Polem di Tunong di kaki pegunungan Djimbora, yang digambarkan sebagai benteng yang lebih luas daripada kraton sultan. Risalah ini juga mencatat jejak ekspedisi pertama. Di jalur pantai sebelah barat sungai, penulis menyebut bivak pantai yang dibangun pada ekspedisi pertama, benteng-benteng yang telah ditinggalkan, kuala dan kanal yang menghubungkan laguna dengan sungai, serta sebuah mandarsah atau balai di dekat muara Kuala Naridji yang diubah menjadi kubu pertahanan. Di sebelah timur, ia menyebut kuala Gigieng yang dapat dimasuki sekunar sebesar kapal Gipsy, benteng-benteng di sekitar Kuala Cangkoi, Kota Radja, Kota Perak dan Fort Diamant, serta parit dan tanggul tanah yang dibangun penduduk. Semua ini memperlihatkan bahwa orang Aceh telah memperkuat pantai mereka setelah serangan April 1873. Bagian berikutnya berjudul Opgave der wegen en paden, daftar jalan dan jalan setapak. Penulis merinci rute dari pantai ke kraton, waktu tempuh dalam jam berjalan kaki, jembatan, rawa yang hanya dapat dilalui pada musim kering, jalan yang layak atau tidak layak bagi artileri, serta jalan dari pasar Aceh ke Tunong yang memerlukan dua puluh empat jam, dan jalan tiga hari melintasi pegunungan ke Pedir. Banyak keterangan bersumber dari para pemberi kabar yang tidak selalu sepakat, dan penulis kadang mencatat perbedaan itu secara terbuka. Risalah ditutup dengan pengamatan bahwa seluruh dataran Aceh Besar rendah, tergenang sekali atau dua kali setahun ketika banjir sehingga masjid pun harus dicapai dengan perahu, dan karena itu kampung-kampung dibangun di tanah yang ditinggikan dengan rumah-rumah panggung. Lampiran berjudul Vivres te Velde memuat komposisi ransum harian bagi serdadu Eropa, Afrika dan Ambon serta bagi pribumi dan pekerja paksa, mulai dari beras, daging, kopi, teh, garam hingga minyak kelapa dan kayu bakar. Lampiran lain menghitung jumlah pekerja paksa yang diperlukan untuk mengangkut perbekalan satu brigade, dengan komposisi Brigade Kedua sebanyak 110 perwira, 1.378 orang Eropa, 460 orang Ambon, 689 pribumi, 78 perempuan, serta kuda perwira dan kuda pemerintah, ditambah 13 mandor dan 392 kuli untuk staf, infanteri, artileri gunung, genie dan ambulans. Angka-angka ini memperlihatkan skala logistik ekspedisi kedua dan peran besar tenaga kerja paksa dalam perang kolonial. Nilai risalah ini bagi studi Aceh terletak pada beberapa hal. Pertama, ia merekam toponimi Aceh Besar dalam ejaan Belanda abad kesembilan belas, sehingga berguna untuk merekonstruksi peta kampung, sungai, kuala dan benteng di sekitar Dalam (istana sultan) sebelum kota Kutaraja dibangun. Kedua, ia memperlihatkan pemahaman Belanda tentang struktur sagi dan mukim, yang kelak menjadi dasar kebijakan administrasi kolonial. Ketiga, ia mencatat respons pertahanan masyarakat Aceh setelah serangan pertama. Keempat, lampiran logistiknya memperlihatkan wajah perang yang jarang dibahas, yaitu ribuan pekerja paksa dan kuli yang dikerahkan untuk menopang pasukan. Kelima, risalah ini membantu menjelaskan mengapa ekspedisi kedua memilih jalur pendaratan, arah gerak dan sasaran yang berbeda dari ekspedisi pertama. Uraian tentang banjir tahunan, rumah panggung, jalan setapak yang melintasi sawah, serta posisi benteng di sepanjang Krueng Aceh menunjukkan bahwa pengalaman kekalahan April 1873 diolah menjadi pengetahuan medan. Dengan demikian, buku kecil ini dapat dibaca berdampingan dengan laporan resmi ekspedisi, peta militer dan catatan para perwira, untuk melihat bagaimana kekuasaan kolonial menyusun pengetahuan tentang Aceh langkah demi langkah sebelum menaklukkannya. Pembaca perlu membaca risalah ini secara kritis. Ia ditulis dari sudut pandang penyerang, bersandar pada informan yang tidak disebut namanya, dan bertujuan memudahkan penaklukan. Banyak nama tempat ditulis menurut pendengaran orang Belanda dan perlu dicocokkan dengan nama Aceh yang benar. Meski demikian, sebagai sumber primer tentang Aceh Besar pada tahun pecahnya perang, risalah ini memberi gambaran berharga tentang lanskap sosial, politik dan fisik yang segera berubah oleh perang tiga puluh tahun berikutnya. Edisi digital ini ditampilkan melalui penampil IIIF dari koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, sehingga seluruh halaman dapat dibaca langsung.
Status hak cipta
Domain publik. Salinan digital dari Leiden University Libraries (KITLV), koleksi Aceh Books.
Alternative Title
Deskripsi Aceh
Source
Leiden University Libraries, Digital Collections IIIF manifest
Extent
13 halaman teks utama dan lampiran; 32 citra digital
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Anonim (pemerintah Hindia Belanda), “Beschrijving van Atjeh”, H. M. van Dorp & Co., Batavia, Beschrijving van Atjeh. Batavia: H. M. van Dorp & Co., 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 58 (Aceh Books)., 1873. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KITLV-AB-M-c-58.