Buku

Taktische aanbevelingen en wenken voor den tweeden veldtocht tegen Atjeh

H. M. van Dorp & Co., Batavia · Taktische aanbevelingen en wenken voor den tweeden veldtocht tegen Atjeh. Batavia: H. M. van Dorp & Co., 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 278 (Aceh Books). · 1873

Ringkasan

Risalah taktis berbahasa Belanda setebal sekitar tiga puluh halaman yang dicetak H. M. van Dorp & Co. di Batavia pada 1873 sebagai pedoman bagi pasukan Hindia Belanda menjelang ekspedisi kedua ke Aceh. Isinya mencakup aturan dinas umum (latihan, bivak, ransum, kuli, gerak maju, pemandu dan mata-mata), dinas keamanan saat beristirahat, kaidah dasar pertempuran infanteri, cara menyerbu benteng dan pagar bambu Aceh, penggunaan artileri gunung, serta prinsip umum peperangan. Dokumen ini memperlihatkan bagaimana kegagalan ekspedisi pertama April 1873 diubah menjadi doktrin tempur kolonial.

Nomor inventaris
KITLV-AB-M-c-278
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
H. M. van Dorp & Co., Batavia
Tanggal terbit
1873
Edisi dan halaman
Taktische aanbevelingen en wenken voor den tweeden veldtocht tegen Atjeh. Batavia: H. M. van Dorp & Co., 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 278 (Aceh Books).
Penulis
Anonim (militer Hindia Belanda)
Klasifikasi LC
DS646.15.A3
Subjek LCSH
Aceh War, Indonesia, 1873-1904; Netherlands. Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger--Drill and tactics; Tactics--Handbooks, manuals, etc.; Aceh (Indonesia)--History, Military
Kategori BISAC
HIS003000 History / Asia / Southeast Asia; HIS027000 History / Military / General
Bahasa
Belanda
Keterangan
Taktische aanbevelingen en wenken voor den tweeden veldtocht tegen Atjeh, atau "Rekomendasi dan petunjuk taktis untuk kampanye kedua melawan Aceh", adalah sebuah buku saku militer berbahasa Belanda yang dicetak oleh H. M. van Dorp & Co. di Batavia pada 1873. Dalam koleksi KITLV yang kini dikelola Perpustakaan Universitas Leiden, buku ini bernomor rak M c 278 dan menjadi bagian dari koleksi digital Aceh Books, sebuah upaya digitalisasi literatur tentang Aceh yang dirintis setelah tsunami 2004. Halaman judulnya tidak mencantumkan nama penyusun. Teks utamanya membentang dari halaman 3 sampai 31, tersusun dalam bagian-bagian berhuruf A, B dan C, ditambah bagian tentang artileri gunung dan aturan umum. Bentuknya ringkas, padat dan bernada perintah, sehingga jelas dimaksudkan untuk dibawa dan dibaca para perwira lapangan. Latar penerbitan buku ini sangat penting. Pada April 1873 pemerintah Hindia Belanda melancarkan ekspedisi pertama ke Aceh di bawah Jenderal J. H. R. Köhler. Ekspedisi itu gagal, Köhler tewas di sekitar masjid raya, dan pasukan ditarik kembali. Pemerintah kolonial lalu menyiapkan ekspedisi kedua yang jauh lebih besar di bawah Letnan Jenderal J. van Swieten, yang mendarat pada akhir 1873. Buku kecil ini lahir di antara dua peristiwa tersebut. Ia membaca kegagalan pertama sebagai persoalan disiplin, logistik, kewaspadaan dan cara menyerang benteng, lalu merumuskan jawabannya dalam bentuk anjuran praktis. Bersama risalah Beschrijving van Atjeh yang terbit di tahun yang sama, buku ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang Aceh dibangun secara sistematis untuk keperluan perang. Bagian A, Algemeene dienstvoorschriften atau aturan dinas umum, dibuka dengan anjuran agar setiap latihan meniru kenyataan perang sedekat mungkin. Disiplin baris berbaris harus keras, peluru hampa dibagikan dalam setiap latihan, dan setiap prajurit harus dibiasakan dengan disiplin tembak, yaitu ketundukan mutlak setiap individu kepada kehendak komandan pada setiap tembakan. Tangga serbu harus selalu dibawa dalam setiap gerakan pasukan. Mengenai bivak, penulis menekankan istirahat yang tidak terganggu, larangan membuka bivak di tempat asing lewat pukul lima sore, serta cara membuat naungan dari selimut di atas rangka empat batang kayu yang dipasang miring 45 derajat ketika hujan. Soal makanan dibahas terperinci. Pasukan harus makan dan minum kopi sebelum berangkat, botol lapangan diisi teh dingin atau air, dan air sumur harus diperiksa perwira kesehatan karena bahaya peracunan. Untuk operasi lebih dari sehari, perbekalan dibawa kuli atau dimasukkan ke kantong roti yang mampu memuat ransum lima hari. Pengaturan kuli mendapat perhatian khusus. Personel militer ditugaskan mengawasi para kuli dan perbekalan, memastikan beban dibagi dengan wajar, kuli diberi makan sebelum berangkat, cadangan tenaga tersedia untuk beban berat, serta rotan dan tikar kajang dibawa untuk melindungi perbekalan dari hujan. Aturan gerak maju juga rinci. Barisan perang biasanya berangkat pukul enam pagi, berhenti sepuluh menit setiap jam, dan berusaha tiba sebelum siang. Bila jarak terlalu jauh, pasukan sebaiknya berhenti, memasak, lalu melanjutkan perjalanan sore hari. Barisan panjang harus dihindari, pasukan perintis dengan kuli dan perkakas berjalan di barisan depan, dan pawai malam dilarang kecuali dalam keadaan sangat mendesak. Bagian ini ditutup dengan anjuran tentang pemandu. Pemandu harus diperlakukan dengan sungguh-sungguh dan lembut, tetapi diawasi ketat, didampingi juru bahasa bila bahasanya tidak dikuasai, dan untuk memperoleh pemandu serta mata-mata yang baik tidak boleh ada uang yang dihemat. Bagian B membahas dinas keamanan ketika pasukan beristirahat. Penulis mengkritik kebiasaan menempatkan pos depan terlalu dekat dan menjalankannya secara pasif. Pos harus didorong jauh ke depan, medan dibuka, dan jalan masuk ditutup dengan kawat besi, rintangan tebangan pohon dan berbagai penghalang. Pos depan harus bersikap aktif dengan sering mengirim regu kecil pada malam hari untuk mengganggu musuh di berbagai titik, sehingga lawan lelah dan lengah. Patroli intai disarankan sebagian besar terdiri dari prajurit pribumi, misalnya dua orang pribumi dan seorang Eropa, yang selalu membawa parang. Penjaga ganda yang memadukan prajurit Eropa dan pribumi dianjurkan. Penulis mencatat bahwa para penjaga paling sering tertidur pada paruh akhir malam, saat paling berbahaya, sehingga pos harus sering diperiksa dan kopi dibagikan antara pukul dua dan tiga dini hari. Bagian ini juga memuat kebijakan yang menyingkap watak perang kolonial. Pembakaran kampung tidak dianjurkan, tetapi harta milik para pemimpin perlawanan harus dibakar atau dihancurkan sebagai hukuman, sementara rakyat kecil, bahkan yang sikapnya meragukan, harus dilindungi. Anjuran ini menunjukkan upaya memisahkan elite perlawanan dari rakyat, sebuah pola yang kelak terus muncul dalam Perang Aceh. Bagian C, Elementaire gevechtsregelen, mengatur cara bertempur infanteri. Setiap pertempuran dibuka oleh barisan penembak lepas yang rapat, dengan jarak antarkelompok tidak lebih dari delapan langkah di medan tertutup. Penulis memperingatkan penyalahgunaan tembakan cepat dari senapan isi belakang yang menghabiskan peluru, menimbulkan asap tebal dan membuat prajurit gugup. Dalam perang di Hindia, tembakan salvo lebih dianjurkan pada jarak yang berarti, tembakan cepat tidak dipakai di atas 150 langkah, dan pasukan yang berdisiplin baik dapat menunggu musuh sampai jarak 60 hingga 70 langkah. Meski persenjataan sudah maju, bayonet dinyatakan masih sering menjadi penentu. Bagian terpanjang membahas serangan terhadap kubu musuh, yaitu kampung, bukit, hutan, pagar dan jurang. Serangan sebaiknya dilakukan secara mendadak, berdasarkan informasi dari mata-mata dan patroli intai, dan paling berhasil bila menyasar bagian belakang musuh. Serangan malam dianjurkan antara pukul tiga dan empat dini hari, dilakukan relawan Eropa dan pribumi yang memakai tanda pengenal seperti pita putih di lengan, dalam keheningan total. Untuk serangan terbuka, penulis menjelaskan bahwa sudut menonjol sebuah kubu adalah titik terlemah. Ia mencatat bahwa benteng pribumi Aceh umumnya kubu terbuka yang dilengkapi tabung bambu sebagai lubang tembak, dan menyarankan agar tabung-tabung itu disumbat dengan batu, tanah atau pasak kayu. Pagar bambu berduri disebut sebagai rintangan paling sulit. Untuk menembusnya, sebuah lubang digali dekat rumpun bambu lalu diisi 25 kilogram mesiu, sementara catatan kaki menyebut percobaan dengan lithofracteur, sejenis bahan peledak baru. Buku ini juga mengatur cara menghadapi ranjau, lubang jebakan, parit basah dan palisade, serta menetapkan ukuran tangga serbu 3,40 meter, enam tangga per kompi, dan enam prajurit bernomor untuk setiap tangga. Pengalaman perang di Hindia, kata penulis, menunjukkan banyak serangan gagal karena alat panjat dan bahan peledak tidak dibawa, atau karena kuli membuang tangga pada saat genting. Bagian tentang artileri gunung menjelaskan penggunaan meriam 8 sentimeter dan mortir 12 sentimeter, jarak tembak granat, granat kartet dan kartet, serta peluru suar yang juga dapat dipakai sebagai peluru pembakar terhadap bangunan kayu dan bambu. Buku ditutup dengan aturan umum: jangan gegabah dengan nyawa prajurit, pasangkan kehati-hatian dengan keberanian, hemat amunisi, jangan pernah bertempur tanpa cadangan, dan ingat bahwa setiap pertempuran memiliki tiga tahap, yaitu pengenalan, tembak-menembak dan keputusan. Bagi studi Aceh, buku ini berharga sebagai sumber primer tentang cara pandang militer kolonial terhadap orang Aceh dan lanskap pertahanan mereka. Uraian tentang benteng, pagar bambu, tabung bambu, ranjau dan lubang jebakan menyimpan jejak teknik pertahanan masyarakat Aceh abad kesembilan belas yang jarang tercatat dari sudut pandang Aceh sendiri. Ketergantungan pada kuli, pemandu dan mata-mata menyingkap sisi sosial perang yang sering terabaikan. Pembaca tentu perlu membacanya secara kritis karena teks ini ditulis untuk menaklukkan, bukan untuk memahami. Edisi digitalnya disajikan melalui citra IIIF dari koleksi Perpustakaan Universitas Leiden sehingga seluruh halaman dapat dibaca langsung.
Status hak cipta
Domain publik. Salinan digital dari Leiden University Libraries (KITLV), koleksi Aceh Books.
Alternative Title
Rekomendasi dan petunjuk taktis untuk kampanye kedua melawan Aceh
Source
Leiden University Libraries, Digital Collections IIIF manifest
Extent
31 halaman teks; 36 citra digital
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Anonim (militer Hindia Belanda), “Taktische aanbevelingen en wenken voor den tweeden veldtocht tegen Atjeh”, H. M. van Dorp & Co., Batavia, Taktische aanbevelingen en wenken voor den tweeden veldtocht tegen Atjeh. Batavia: H. M. van Dorp & Co., 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 278 (Aceh Books)., 1873. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KITLV-AB-M-c-278.