Buku

De mislukte tocht naar Atjeh: aan wien de schuld?

H. M. van Dorp & Co., Batavia; De Erven Thierry & Mensing dan C. van Doorn & Zoon, 's-Gravenhage · Daalen, H. B. van. De mislukte tocht naar Atjeh: aan wien de schuld? Batavia: H. M. van Dorp & Co.; 's-Gravenhage: Thierry & Mensing, C. van Doorn & Zoon, 1873. Overgedrukt uit De Java-Bode 1-3 Mei 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 7 (Aceh Books). · 1873

Ringkasan

Brosur karya H. B. van Daalen, redaktur harian De Java-Bode di Batavia, yang dicetak ulang dari terbitan 1, 2 dan 3 Mei 1873 dan diterbitkan bersama oleh H. M. van Dorp & Co. (Batavia) serta De Erven Thierry & Mensing dan C. van Doorn & Zoon ('s-Gravenhage) pada 1873. Ditulis hanya beberapa minggu setelah kegagalan ekspedisi pertama Belanda ke Aceh pada April 1873, brosur ini bertanya siapa yang bersalah. Jawabannya: ketidaktahuan hampir total tentang keadaan Aceh, karena tentara Hindia Belanda tidak memiliki Staf Umum dan pemerintah di Belanda terus berhemat secara keliru.

Nomor inventaris
KITLV-AB-M-c-7
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
H. M. van Dorp & Co., Batavia; De Erven Thierry & Mensing dan C. van Doorn & Zoon, 's-Gravenhage
Tanggal terbit
1873
Edisi dan halaman
Daalen, H. B. van. De mislukte tocht naar Atjeh: aan wien de schuld? Batavia: H. M. van Dorp & Co.; 's-Gravenhage: Thierry & Mensing, C. van Doorn & Zoon, 1873. Overgedrukt uit De Java-Bode 1-3 Mei 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 7 (Aceh Books).
Penulis
Daalen, H. B. van
Klasifikasi LC
DS646.15.A3
Subjek LCSH
Aceh War, Indonesia, 1873-1904; Köhler, J. H. R., 1818-1873; Netherlands. Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger; Military intelligence--Indonesia; Aceh (Indonesia)--History, Military
Kategori BISAC
HIS003000 History / Asia / Southeast Asia; HIS027000 History / Military / General; POL045000 Political Science / Colonialism & Post-Colonialism
Bahasa
Belanda
Keterangan
De mislukte tocht naar Atjeh. Aan wien de schuld?, atau "Ekspedisi yang gagal ke Aceh. Siapa yang bersalah?", adalah brosur berbahasa Belanda karya H. B. van Daalen, redaktur surat kabar De Java-Bode di Batavia. Brosur ini merupakan cetak ulang artikel yang terbit di De Java-Bode tanggal 1, 2 dan 3 Mei 1873, nomor 102, 103 dan 104, dan diterbitkan pada 1873 oleh H. M. van Dorp & Co. di Batavia bersama De Erven Thierry & Mensing dan C. van Doorn & Zoon di 's-Gravenhage. Dalam koleksi KITLV yang kini dikelola Perpustakaan Universitas Leiden, brosur ini bernomor rak M c 7 dan termasuk koleksi digital Aceh Books. Teks utamanya terdiri dari 20 halaman, didahului kata pengantar empat halaman bertanggal Batavia, 10 Mei 1873, dan diakhiri iklan langganan De Java-Bode. Latar penulisannya sangat dekat dengan peristiwa. Ekspedisi pertama Belanda ke Aceh di bawah Jenderal J. H. R. Köhler mendarat pada awal April 1873, Köhler gugur di sekitar masjid raya, dan pasukan ditarik kembali pada akhir bulan itu. Kegagalan ini mengguncang opini publik di Hindia dan Belanda. Surat kabar saling berpolemik tentang siapa yang harus bertanggung jawab. Van Daalen menulis sebagai tanggapan atas artikel berjudul "Aan wien de schuld" di harian De Indiër tanggal 26 April 1873, dan sekaligus melawan sebuah artikel anonim berjudul "Bemoediging" yang membela Gubernur Jenderal dan menyerang De Java-Bode. Kata pengantar memperlihatkan suasana polemik itu. Van Daalen menyebut artikel "Bemoediging" lebih layak diberi judul "Ontmoediging" atau keputusasaan. Penulis anonim itu, katanya, membela pemerintah dengan menyatakan bahwa pemerintah dan tentara telah dilengkapi pengetahuan paling teliti tentang Aceh, padahal bila klaim itu benar, seluruh kesalahan justru jatuh kepada pemerintah. Van Daalen juga menuduh penulis itu menabur kebencian antara warga sipil dan tentara, dan mencatat bahwa ketika artikel itu dicetak ulang sebagai brosur untuk pembaca di Belanda, bagian-bagian yang paling kasar terhadap redaktur De Java-Bode dihapus. Isi utama brosur dibuka dengan pernyataan bahwa kesalahan tidak bisa ditimpakan kepada satu orang. Van Daalen lalu menunjuk dua fakta penting. Pertama, pemerintah tidak tahu bahwa tiga minggu setelah pasukan berangkat, musim angin barat akan datang begitu kuat sehingga hubungan dengan pantai terputus berhari-hari. Kedua, pemerintah mengira kraton Aceh tidak berarti apa-apa, padahal selain kraton yang kokoh, tahan serbuan dan dipersenjatai meriam berat, masih ada banyak benteng kuat berdinding tanah yang telah dibangun bertahun-tahun sebelumnya. Pemerintah, tulisnya, sama sekali tidak menduga akan berhadapan dengan sebuah kerajaan pribumi yang kuat, bersenjata baik, memiliki meriam berat dan banyak senjata api, dipimpin dengan bijak, dan didukung rakyat yang cinta tanah air, gigih dan banyak jumlahnya, yang siap menyerahkan tetes darah terakhir demi kemerdekaannya. Van Daalen kemudian menelusuri upaya pengumpulan informasi sebelum perang. Sampai 1870 hampir tidak ada hubungan dengan Aceh, dan kapal perang jarang mengunjungi perairannya. Setelah perjanjian dengan Inggris pada 1871, perang dengan Aceh mulai dianggap tak terelakkan. Departemen Angkatan Laut dan Departemen Perang mengumpulkan data, dan Kolonel Köhler, ketika itu komandan pasukan di Sumatra, ditugasi menghimpun keterangan. Hasilnya sebuah berkas tebal berisi gambar-gambar, disusun dari tulisan-tulisan yang dikenal maupun yang jarang dikenal serta dari wawancara dengan orang-orang yang pernah berdagang ke Aceh. Biro Topografi juga dilibatkan. Akan tetapi seluruh laporan itu menggambarkan Aceh yang terpecah, bersenjata buruk dan kehilangan keberanian lamanya, dengan beberapa benteng dan kraton yang dindingnya miring karena tua. Kenyataan yang ditemui sama sekali lain. Penulis mencatat adanya persatuan yang kuat, kemungkinan demi kemerdekaan, adat dan agama, serta pasukan yang dengan klewang di tangan menerjang hujan peluru dengan sikap meremehkan maut yang membuat prajurit berpengalaman pun terpana. Bahkan letak kraton tidak diketahui dengan pasti, karena menurut laporan resmi tidak ada yang pernah melihatnya. Dari sini Van Daalen menyimpulkan bahwa Köhler, pimpinan tentara, Angkatan Laut dan pemerintah Hindia tidak dapat dipersalahkan secara pribadi. Köhler beberapa kali ditanya apakah ia memerlukan pasukan tambahan, dan ia bersama stafnya menilai kekuatan yang ada sudah cukup. Akar masalahnya adalah ketidaktahuan. Ia memberi contoh berulangnya pola yang sama dalam sejarah ekspedisi kolonial, dari Bali dan Bone sampai Deli, ketika pasukan dikirim sedikit demi sedikit, dari dua belas orang, lima puluh, seratus dua puluh, setengah batalion, lalu setengah batalion lagi. Ia lalu membandingkan dengan Prusia, yang Staf Umumnya mengenal Prancis dan negeri-negeri tetangganya secara terperinci. Tentara Hindia Belanda, dengan sekitar 27.000 orang, tidak memiliki Staf Umum semacam itu. Andaikata korps tersebut dibentuk bertahun-tahun sebelumnya seperti usulan Departemen Militer, kata Van Daalen, Aceh tidak akan menjadi negeri yang tak dikenal, dan banyak nyawa serta uang dapat diselamatkan. Kesalahan akhirnya ia tujukan kepada rangkaian kebijakan pemerintah di Belanda dan para Menteri Jajahan yang memperlakukan tentara Hindia seperti anak tiri, serta kepada parlemen yang menolak anggaran. Ia mengecam sikap "penny wise and pound foolish" dan menuntut persenjataan yang layak, gaji yang memadai dan sebuah Staf Umum. Tambahan di akhir brosur mengutip resensi Jenderal Weitzel dalam Militaire Spectator atas buku Kapten Perelaer tentang ekspedisi Bone, yang menunjukkan kegagalan serupa di Soepa pada 1825, Bali pada 1849, Tomori pada 1856 dan Bone pada 1859, serta usulan pembentukan biro topografi dan statistik militer di Batavia yang dahulu ditolak Gubernur Jenderal Pahud. Dari sudut historiografi, brosur ini juga menarik karena memperlihatkan peran pers Batavia dalam membentuk tafsir publik atas perang. Van Daalen tidak menulis sebagai saksi mata di medan tempur, melainkan sebagai redaktur yang membaca laporan, surat dan berita dari berbagai pihak, lalu menyusunnya menjadi argumen tentang tata kelola tentara kolonial. Perdebatan antara De Java-Bode, De Indiër dan penulis anonim "Bemoediging" menunjukkan bahwa kegagalan di Aceh segera menjadi bahan pertarungan politik antara pendukung dan pengkritik Gubernur Jenderal, antara kalangan sipil dan militer, serta antara Batavia dan Den Haag. Dengan demikian Aceh hadir dalam teks ini bukan hanya sebagai medan perang, tetapi juga sebagai cermin yang memantulkan kelemahan sistem kolonial itu sendiri, sesuatu yang kelak terus berulang selama tiga puluh tahun Perang Aceh. Bagi studi Aceh, brosur ini adalah kesaksian awal dari pers kolonial tentang kekuatan Aceh pada 1873. Pengakuan bahwa Aceh adalah kerajaan yang bersatu, bersenjata, dipimpin dengan bijak dan dibela rakyat yang siap mati demi kemerdekaan, datang dari pihak yang menyerang dan karena itu sangat berharga. Brosur ini juga memperlihatkan bagaimana kegagalan April 1873 mendorong lahirnya tuntutan akan pengetahuan sistematis tentang Aceh, yang kelak menjadi dasar kajian kolonial tentang masyarakat Aceh. Edisi digitalnya disajikan melalui citra IIIF dari koleksi Perpustakaan Universitas Leiden.
Status hak cipta
Domain publik. Salinan digital dari Leiden University Libraries (KITLV), koleksi Aceh Books.
Alternative Title
Ekspedisi yang gagal ke Aceh: siapa yang bersalah?
Source
Leiden University Libraries, Digital Collections IIIF manifest
Extent
IV, 20 halaman; 28 citra digital
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Daalen, H. B. van, “De mislukte tocht naar Atjeh: aan wien de schuld?”, H. M. van Dorp & Co., Batavia; De Erven Thierry & Mensing dan C. van Doorn & Zoon, 's-Gravenhage, Daalen, H. B. van. De mislukte tocht naar Atjeh: aan wien de schuld? Batavia: H. M. van Dorp & Co.; 's-Gravenhage: Thierry & Mensing, C. van Doorn & Zoon, 1873. Overgedrukt uit De Java-Bode 1-3 Mei 1873. Leiden University Libraries, KITLV, shelfmark M c 7 (Aceh Books)., 1873. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KITLV-AB-M-c-7.