Buku
Brother Imam Yusny Saby: Perubahan Sosial Indonesia Pascakemerdekaan
Oleh Sehat Ihsan Shadiqin
Bandar Publishing, Banda Aceh · 2026
- Nomor inventaris
- KBA-BK-2026-0100
- Jenis dokumen
- Buku
- Sumber terbitan
- Bandar Publishing, Banda Aceh
- Tanggal terbit
- 2026
- Penulis
- Sehat Ihsan Shadiqin
- Klasifikasi LC
- DS646.15.A2 — Sejarah Aceh
- Subjek LCSH
- Saby, Yusny Indonesia -- Social conditions
- Kategori BISAC
- BIO018000 BIOGRAPHY & AUTOBIOGRAPHY / Religious
- Tempat
- Banda Aceh
- Bahasa
- Indonesia
- Keterangan
- Brother Imam Yusny Saby: Perubahan Sosial Indonesia Pascakemerdekaan merupakan buku karya Sehat Ihsan Shadiqin yang menempatkan perjalanan seorang tokoh sebagai pintu masuk untuk mendekati perubahan masyarakat. Judulnya mempertemukan dua skala pembacaan: kehidupan Yusny Saby sebagai individu dan Indonesia pascakemerdekaan sebagai ruang sejarah. Bagi pengunjung pustaka, pertemuan tersebut menawarkan alasan untuk membaca biografi dengan perhatian terhadap hubungan antara pengalaman pribadi, lingkungan sosial, dan perkembangan zaman. Keterangan ini disusun sebagai pengantar kuratorial berdasarkan sampul serta informasi bibliografis yang tersedia, bukan sebagai ringkasan lengkap seluruh isi buku. Penjelasan tematis berikut menunjukkan kemungkinan pemanfaatannya untuk pembelajaran, penelitian, dan penelusuran koleksi. Menurut pengantar penerbit, tokoh yang menjadi pusat buku ini adalah Profesor Yusny Saby, yang berasal dari keluarga sederhana di Kabupaten Bireuen, Aceh. Penerbit menggambarkan lintasan kehidupannya melalui Bireuen, Lhokseumawe, Kutaraja, Yogyakarta, Jakarta, hingga Amerika Serikat. Informasi tersebut memperlihatkan bahwa ruang kehidupan yang diperkenalkan kepada pembaca melampaui satu lingkungan lokal. Namun, rincian perjalanan, urutan peristiwa, dan pengalaman pada masing-masing tempat perlu diperiksa langsung dalam buku. Pada tingkat katalog, keterangan yang tersedia sudah membantu menempatkan karya ini di antara bacaan biografi, sejarah sosial, dan kajian hubungan antara tempat asal dengan pengalaman lintas wilayah. Salah satu pertanyaan yang dapat dibawa pembaca ketika membuka buku ini adalah bagaimana pengalaman seseorang berhubungan dengan perubahan masyarakat di sekelilingnya. Biografi memungkinkan sejarah didekati melalui keputusan, kesempatan, perjumpaan, serta ingatan manusia. Pendekatan tersebut berguna karena perubahan sosial sering lebih mudah dipahami ketika memiliki hubungan dengan pengalaman konkret. Meski demikian, seorang tokoh tidak dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat. Pembaca tetap perlu membedakan pengalaman individual, gambaran kelompok tertentu, dan kecenderungan sosial yang lebih luas. Dengan perhatian semacam itu, buku biografi dapat menjadi bahan untuk membangun pertanyaan sejarah tanpa menjadikan satu kehidupan sebagai penjelasan tunggal mengenai zamannya. Frasa Indonesia pascakemerdekaan dalam subjudul menyediakan cakrawala pembacaan yang luas. Kemerdekaan dapat dipahami sebagai permulaan bagi berbagai proses pembentukan masyarakat, lembaga, dan harapan bersama. Dalam kerangka pengantar ini, pembaca dapat mempertanyakan bagaimana gagasan kemajuan, pendidikan, pengabdian, dan identitas memperoleh makna pada masa yang berbeda. Pertanyaan tersebut merupakan usulan pembacaan, bukan pernyataan bahwa seluruh persoalan itu dibahas secara khusus oleh penulis. Untuk mengetahui penekanan sebenarnya, daftar isi, pendahuluan, dan bagian kesimpulan perlu dibaca. Katalog berfungsi membantu pembaca mengenali medan persoalan sebelum menentukan bagian buku yang paling sesuai dengan kepentingan mereka. Bagi kajian Aceh, titik berangkat dari Bireuen mengundang perhatian terhadap hubungan antara lingkungan asal dan terbentuknya perjalanan kehidupan. Tempat asal bukan sekadar penanda geografis dalam sebuah biografi. Ia dapat menjadi konteks untuk menanyakan peran keluarga, pergaulan, bahasa, kebiasaan, serta kesempatan belajar. Kehadiran beberapa kota dalam pengantar penerbit juga membuka pertanyaan mengenai perubahan lingkungan dan perluasan pengalaman. Pembaca dapat menggunakan buku ini untuk menelusuri apakah dan bagaimana hubungan dengan tempat asal diceritakan kembali. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut harus mengikuti bukti dalam teks, bukan semata-mata disimpulkan dari nama tempat atau citra tokoh pada sampul. Lintasan menuju Amerika Serikat yang disebut penerbit membuka kemungkinan pembacaan mengenai perjumpaan lintas masyarakat. Dari sudut penelitian, perpindahan tempat dapat menjadi kesempatan untuk menelaah pengalaman belajar, penyesuaian diri, pembentukan jaringan, dan pertukaran gagasan. Keterangan yang tersedia belum cukup untuk menetapkan lembaga, tahun, atau kegiatan tertentu dalam perjalanan tersebut. Karena itu, pengunjung pustaka disarankan menggunakan informasi ini sebagai petunjuk penelusuran awal. Apabila dibaca bersama dokumen lain yang relevan, narasi biografis dapat membantu menyusun pertanyaan tentang hubungan antara pengalaman internasional dan kehidupan sosial di lingkungan asal, sambil mempertahankan ketelitian terhadap kronologi serta sumber informasi. Untuk mahasiswa, buku ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan latihan membaca biografi secara kritis. Langkah awalnya adalah mencatat siapa yang berbicara dalam narasi, peristiwa apa yang dipilih, serta bagaimana keterangan mengenai tokoh disusun. Selanjutnya, pembaca dapat membedakan uraian peristiwa, kesaksian, penafsiran, dan penilaian. Pembedaan ini membantu mencegah pembacaan yang hanya mengumpulkan pujian atau mengulang cerita tanpa pertanyaan. Mahasiswa juga dapat menyusun garis waktu berdasarkan halaman yang dibaca, kemudian mencatat bagian yang masih memerlukan pemeriksaan. Cara tersebut menjadikan kegiatan membaca lebih terarah sekaligus memberi dasar bagi diskusi tentang hubungan antara penulisan kehidupan dan penyusunan pengetahuan sejarah. Bagi peneliti, nilai sebuah biografi juga terletak pada kemampuannya menunjukkan arah pencarian sumber lanjutan. Nama orang, tempat, organisasi, atau peristiwa yang benar-benar ditemukan dalam teks dapat dicatat untuk dibandingkan dengan arsip dan publikasi lain. Katalog ini tidak menyatakan bahwa buku tersebut memakai metode wawancara, menyediakan dokumen tertentu, atau memuat perangkat referensi khusus, karena unsur itu belum diperiksa. Sikap tersebut menjaga agar deskripsi koleksi tetap dapat dipertanggungjawabkan. Pemanfaatan ilmiah perlu bertumpu pada pembacaan langsung dan pencatatan halaman, terutama apabila informasi dari buku akan dikutip dalam artikel, skripsi, penelitian sejarah, atau karya akademik yang membutuhkan sumber terperinci. Sebagai objek dokumentasi, sampul buku juga memiliki arti bagi pengelolaan koleksi. Nama tokoh ditampilkan dengan huruf berukuran besar, sedangkan subjudul memberi petunjuk mengenai cakupan sosial dan historisnya. Foto pada sampul dan latar bangunan membentuk identitas visual yang membantu pengunjung mengenali eksemplar. Dokumentasi gambar yang rapi sebaiknya mempertahankan seluruh tulisan, logo penerbit, dan susunan visual asli. Pemotongan latar di luar buku serta penyesuaian keterbacaan dapat membantu penyajian katalog, tetapi hasilnya perlu dipahami sebagai gambar olahan untuk akses. Foto asli tetap berguna sebagai rujukan, terutama untuk memeriksa detail yang mungkin berkurang akibat pengolahan digital. Dalam Pustaka KBA13 Academy, buku ini dapat ditempatkan sebagai bacaan penghubung antara kehidupan tokoh, kajian Aceh, dan sejarah sosial Indonesia. Pengelompokan tersebut merupakan rekomendasi pengatalogan yang dapat disesuaikan dengan susunan koleksi yang sudah berlaku. Kata kunci yang terarah membantu pengunjung menemukan buku melalui tema maupun nama, sementara metadata bibliografis memudahkan pembedaan antarjudul dan edisi. Pengunjung yang tertarik pada hubungan manusia dengan perubahan zamannya dapat menjadikan buku ini sebagai titik awal penelusuran. Pembacaan selanjutnya tetap perlu memberi ruang bagi kerumitan pengalaman, perbedaan sudut pandang, serta pemeriksaan sumber agar penghargaan terhadap tokoh berjalan bersama ketelitian akademik. Untuk keperluan penelusuran koleksi, nama penulis dan nama tokoh perlu ditempatkan dalam ruas yang berbeda. Sehat Ihsan Shadiqin merupakan penulis, sedangkan Yusny Saby merupakan subjek biografi. Pembedaan ini membantu pencarian yang lebih tepat. Tahun terbit juga harus dibedakan dari masa kehidupan yang dibicarakan. Demikian pula, keberadaan foto sampul dalam katalog menunjukkan dokumentasi sebuah eksemplar, bukan ketersediaan seluruh teks untuk dibaca atau diunduh. Informasi akses dapat ditambahkan sesuai layanan pustaka yang berlaku.
- Status hak cipta
- Koleksi Pribadi
Cara mengutip
Sehat Ihsan Shadiqin, “Brother Imam Yusny Saby: Perubahan Sosial Indonesia Pascakemerdekaan”, Bandar Publishing, Banda Aceh, 2026. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BK-2026-0100.