Buku

Bali pada Abad XIX

Gadjah Mada University Press, Yogyakarta · Tahun cetak eksemplar belum diketahui; menurut penerbit, terbitan pertama Maret 1989. Rujukan penerbit: ISBN 979-420-114-6; 875 halaman; 14,5 × 21 cm (belum diverifikasi pada eksemplar). Judul bibliografis lengkap: Bali pada abad XIX: perjuangan rakyat dan raja-raja menentang kolonialisme Belanda, 1808–1908 · Tanpa tahun

Ringkasan

Buku sejarah karya Ide Anak Agung Gde Agung yang, berdasarkan daftar isi, membahas keadaan Bali menjelang abad XIX, hubungan politik dengan Belanda pada 1808–1830, pembukaan kantor dagang di Bali dan Lombok pada 1830–1845, serta perang di Buleleng, Jagaraga, dan Kusamba. Pembahasan berlanjut pada konstelasi politik sejak 1850, ekspedisi militer Belanda tahun 1906, Puputan Badung, dan Puputan Klungkung tahun 1908. Terdapat tujuh bab, kepustakaan, indeks, lampiran, dan riwayat hidup. Keterangan katalog disusun dari sampul, daftar isi, dan data penerbit, bukan pembacaan lengkap buku.

Nomor inventaris
KBA-BKU-TT-0011
Jenis dokumen
Buku
Sumber terbitan
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Tanggal terbit
Tanpa tahun
Edisi dan halaman
Tahun cetak eksemplar belum diketahui; menurut penerbit, terbitan pertama Maret 1989. Rujukan penerbit: ISBN 979-420-114-6; 875 halaman; 14,5 × 21 cm (belum diverifikasi pada eksemplar). Judul bibliografis lengkap: Bali pada abad XIX: perjuangan rakyat dan raja-raja menentang kolonialisme Belanda, 1808–1908
Penulis
Ide Anak Agung Gde Agung
Klasifikasi LC
DS647.B2 — Sejarah Bali
Subjek LCSH
Bali Island (Indonesia) -- History -- 19th century
Kategori BISAC
HIS048000 HISTORY / Asia / Southeast Asia
Tempat
Bali Lombok
Bahasa
Indonesia
Keterangan
Bali pada Abad XIX karya Ide Anak Agung Gde Agung merupakan bacaan sejarah yang, berdasarkan daftar isi eksemplar ini, menelusuri perubahan hubungan antara kerajaan-kerajaan Bali dan kekuasaan Belanda sejak awal abad kesembilan belas hingga awal abad kedua puluh. Sampul menampilkan dua figur bersenjata dalam nuansa cokelat keemasan, judul berhuruf besar, serta identitas Gadjah Mada University Press. Dalam koleksi Pustaka KBA13 Academy, buku ini dapat ditempatkan sebagai sumber penelusuran sejarah politik Bali, hubungan antarkerajaan, perluasan kolonialisme, dan perlawanan terhadap penaklukan. Pengantar katalog ini bertumpu pada foto sampul, daftar isi, serta informasi penerbit; bukan pembacaan lengkap seluruh halaman buku. Susunan buku memperlihatkan tujuh bab, didahului kata pengantar dan pendahuluan. Bab pertama membahas Bali menjelang awal abad kesembilan belas. Posisi pembahasan ini membantu pembaca memulai sejarah dari keadaan setempat, sebelum mengikuti perkembangan hubungan dengan Belanda. Sebagai cara membaca, bagian tersebut dapat digunakan untuk menanyakan bagaimana lingkungan politik lokal diperkenalkan oleh penulis dan unsur apa yang dianggap penting bagi pembahasan berikutnya. Pembaca perlu memperhatikan bahwa istilah Bali menunjuk sebuah ruang yang memiliki dinamika internal. Karena itu, hubungan dengan kekuatan luar sebaiknya ditelusuri bersama hubungan di antara pusat-pusat kekuasaan yang muncul dalam narasi buku. Bab kedua membahas usaha pemerintah Belanda mengadakan hubungan politik dengan raja-raja Bali antara 1808 dan 1830. Judul bab tersebut menempatkan hubungan politik sebagai tahapan penting sebelum pembahasan perang. Untuk mahasiswa sejarah dan hubungan internasional, bagian ini menyediakan arah pembacaan mengenai bagaimana kontak dibangun, kepentingan dirumuskan, dan hubungan antarpihak didefinisikan. Daftar isi belum menjelaskan bentuk kesepakatan maupun rincian perundingan, sehingga informasi itu harus diperiksa dalam teks. Namun, rentang waktu yang dicantumkan sudah memungkinkan pembaca menyusun pembabakan awal dan membandingkannya dengan bagian-bagian berikutnya tanpa mencampuradukkan seluruh proses menjadi satu peristiwa penaklukan. Bab ketiga memusatkan perhatian pada perluasan pengaruh politik melalui pembukaan kantor dagang atau factorij di Bali dan Lombok pada 1830–1845. Dari struktur ini terlihat bahwa perdagangan ditempatkan berdekatan dengan pembentukan pengaruh politik. Bagi pembaca, hubungan tersebut membuka pertanyaan mengenai fungsi kehadiran dagang, jaringan perantara, dan kedudukan suatu kantor dalam hubungan dengan penguasa setempat. Pertanyaan itu merupakan panduan untuk menelaah isi, bukan kesimpulan mengenai mekanisme tertentu yang belum dibaca. Penyebutan Lombok juga memperluas cakupan geografis bagian ini dan mengingatkan bahwa sejarah hubungan politik Bali tidak selalu dapat dipisahkan dari lingkungan kepulauan di sekitarnya. Bab keempat menampilkan rangkaian Perang Buleleng, Jagaraga, dan Kusamba, kemudian menyebut perdamaian di Kuta–Badung pada 13–15 Juli 1849. Penyusunan semacam ini menghubungkan konflik bersenjata dengan penyelesaian politik. Pembaca dapat menelusuri bagaimana urutan pertempuran dijelaskan, pihak mana yang terlibat, serta bagaimana perpindahan dari perang menuju perdamaian dipaparkan. Untuk keperluan penelitian, nama tempat dan tanggal yang tercantum menjadi penanda awal pencarian silang. Penanda tersebut tetap perlu diperiksa pada halaman pembahasan, sebab judul bab hanya merangkum cakupan. Ketelitian ini membantu menghindari penyederhanaan yang menganggap seluruh konflik mempunyai sebab, pelaku, dan akibat yang sama. Bab kelima membicarakan perkembangan dan konstelasi politik di Bali dari 1850 hingga akhir abad kesembilan belas. Rentang yang panjang ini menunjukkan adanya perhatian terhadap dinamika setelah rangkaian perang pada bagian sebelumnya. Dalam pembacaan tematis, bagian tersebut dapat diarahkan pada pertanyaan mengenai keberlanjutan, perubahan kedudukan, serta hubungan antarkekuatan. Istilah konstelasi politik mengundang pembaca memperhatikan susunan hubungan, bukan hanya daftar pergantian tokoh atau peristiwa. Dengan membandingkan bagian ini dan bab-bab awal, mahasiswa dapat memeriksa bagaimana penulis membangun gambaran perubahan dari satu periode ke periode berikutnya. Kesimpulan mengenai perubahan tertentu harus tetap mengikuti argumentasi dan bukti yang tersedia dalam buku. Bab keenam membawa uraian melampaui batas abad yang disebut dalam judul singkat pada sampul. Daftar isi mencantumkan ekspedisi militer Belanda pada 10 September–30 Oktober 1906, Puputan Badung pada 20 September 1906, dan Puputan Klungkung pada 28 April 1908. Dengan demikian, ruang waktu buku perlu dicatat hingga awal abad kedua puluh. Dalam katalog, tanggal peristiwa tersebut dibedakan dari tahun penerbitan. Bagi pembaca, bagian ini penting untuk menanyakan bagaimana proses yang dibahas sejak awal abad kesembilan belas dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa penutupnya, tanpa menganggap setiap perkembangan sebelumnya pasti mengarah kepada satu hasil yang telah ditentukan. Bab ketujuh berupa ikhtisar ringkas dan penutup atau epilog. Setelahnya, daftar isi menyebut kepustakaan, indeks, lampiran-lampiran, dan riwayat hidup. Keberadaan bagian-bagian tersebut terlihat pada foto, tetapi isi rinci dan kelengkapannya belum diperiksa. Dalam pemanfaatan akademik, indeks dapat menjadi pintu pencarian nama dan tempat apabila memang tersedia lengkap dalam eksemplar. Kepustakaan serta lampiran perlu dibaca untuk mengetahui sumber apa yang digunakan dan bahan tambahan apa yang disediakan. Katalog tidak menetapkan jumlah lampiran atau jenis arsipnya karena foto yang dikirim hanya menunjukkan judul bagian, bukan dokumen-dokumen yang termuat di dalamnya. Nilai pembelajaran buku ini terletak pula pada susunan kronologis dan pergantian fokus pembahasannya. Mahasiswa dapat membuat tabel sederhana yang membedakan periode, tempat, aktor, dan bentuk hubungan: kontak politik, kehadiran dagang, perang, perdamaian, serta perubahan konstelasi. Tabel itu sebaiknya diisi setelah membaca bagian yang relevan dan mencatat halaman sumber. Dengan cara demikian, buku dapat dipakai untuk melatih keterampilan menghubungkan peristiwa sekaligus menjaga batas antara bukti dan penafsiran. Pembaca juga dapat membandingkan bagaimana istilah kedaulatan, kekuasaan, perlawanan, dan kolonialisme digunakan dalam karya ini dengan penggunaannya pada bacaan sejarah lain yang membahas periode serupa. Dari segi dokumentasi koleksi, foto sampul memperlihatkan tanda keausan, terutama pada bagian bawah dan sudut kanan. Foto daftar isi menunjukkan kerusakan berupa sobekan pada sisi kiri dan sebagian nomor halaman terpotong di tepi kanan. Kondisi tersebut layak dicatat sebagai ciri eksemplar, bukan dihilangkan dari riwayat dokumentasinya. Foto asli perlu dipertahankan, sedangkan versi sampul yang dirapikan dapat digunakan sebagai gambar akses dengan penjelasan bahwa gambar telah diolah. Nomor halaman yang tidak terbaca tidak boleh dilengkapi berdasarkan perkiraan. Demikian pula, tahun cetak dan ISBN eksemplar memerlukan pemeriksaan halaman hak cipta sebelum dianggap pasti. Sebagai bagian dari pustaka pribadi yang dibuka untuk penelusuran, buku ini memperkaya bahan mengenai sejarah kekuasaan dan hubungan antarmasyarakat di Indonesia. Penempatan dalam koleksi Buku dapat dilengkapi subjek terpisah seperti Bali, Lombok, sejarah politik, kolonialisme Belanda, kerajaan Bali, dan puputan. Pemisahan itu membantu pengunjung menemukan karya melalui jalur yang berbeda. Katalog yang baik mempertemukan identitas bibliografis, gambaran isi, serta keadaan eksemplar tanpa menyamakan ketiganya. Melalui susunan tersebut, pengunjung dapat menentukan relevansi buku bagi kebutuhannya dan kemudian melakukan pembacaan langsung untuk memperoleh uraian, penjelasan, serta bukti yang lebih lengkap.
Status hak cipta
Koleksi pribadi KBA13 Academy
Koleksi
Buku

Cara mengutip

Ide Anak Agung Gde Agung, “Bali pada Abad XIX”, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Tahun cetak eksemplar belum diketahui; menurut penerbit, terbitan pertama Maret 1989. Rujukan penerbit: ISBN 979-420-114-6; 875 halaman; 14,5 × 21 cm (belum diverifikasi pada eksemplar). Judul bibliografis lengkap: Bali pada abad XIX: perjuangan rakyat dan raja-raja menentang kolonialisme Belanda, 1808–1908. Arsip dan Pustaka KBA13 Academy, KBA-BKU-TT-0011.